Pendidikan Vokasi di Era Society 5.0

Opini oleh Dr Hairuddin K SS SKM M Kes (Direktur Poltekkes Megarezky)

Masyarakat telah berkembang dari satu fase perkembangan teknologi ke fase perkembangan teknologi berikutnya. Society 1.0 dimulai ketika manusia memasuki era berburu. Perkembangan kedua terjadi ketika manusia mengenal cara bercocok tanam atau bertani. Di fase ini manusia memasuki society 2.0. Society 3.0 terjadi ketika manusia memasuki era industrialisasi. Fase industrialisasi dibagi menjadi dua yakni fase industri ringan (light industry) dan industri berat (heavy industry). Penemuan mesin uap dan mesin tekstil adalah langkah revolusioner fase light industry.

Pada fase ini mekanisasi produksi barang secara massal telah dikenal. Manusia memasuki revolusi industry tahap pertama. Fase heavy industry dimulai ketika manusia menemukan teknologi listrik, industrialisasi migas dan teknologi otomotif. Penemuan ketiga teknologi ini menyebabkan masyarakat memasuki revolusi industri fase kedua. Ditemukannya komputer dan internet menandakan kehidupan  manusia memasuki otomatisasi dan era informasi. Komputer dan internet telah menyebabkan perolehan dan penyebaran informasi semakin canggih. 

Perkembangan berikutnya terjadi ketika ditemukannya teknologi artificial intelligence, IoT, robot,big data dan blockchain. Digitalisasi seluruh aspek kehidupan menjadi tanda masuknya manusia kemdalam fase Industri 4.0. Di titik ini pulalah diperkenalkan konsep Masyarakat Era Industri 4.0 yakni Society 5.0.

Society 5.0 dikenal dengan istilah Super Smart Society. Sebuah istilah yang digunakan  untuk menggambarkan kelebihan manusia untuk menyelesaikan permasalahan kehidupannya dengan menggunakan teknologi digital, misalnya artificial intelligence, IoA, blockchain,big data,robot dan sebagainya.

Di era Society 5.0 manusia dan dunia digital adalah dua entitas yang tak terpisahkan. Wujud Society 5.0 terlihat pada Ojol (Ojek Online) misalnya Grab, Gojek,dan Maxim. Ketiganya memberikan pelayanan dan akses kepada barang kebutuhan manusia melalui teknologi digital tanpa terhalangi oleh wilayah, ras, gender,agama, bahasa dan sebagainya.

Society 5.0 mensyaratkan masyarakat dengan tingkat kecerdasan yang tinggi yang salah satunya ditandai dengan penguasaan keterampilan yang amat berguna bagi dirinya dan masyarakatnya. Manusia di era Society 5.0 harus mampu bersaing dan berkompetisi dalam dunia kerja yang semakin selektif.  Pada konteks inilah pentingnya kemampuan vokasi bagi generasi muda.    
 

Pendidikan Vokasi di Indonesia Era Society 5.0

Global Human Capital Index oleh World Economic Forum (WEF) 2017, di mana peringkat SDM Indonesia berada pada posisi 65 dari 130 negara, tertinggal dibandingkan Malaysia (peringkat 33), Thailand (peringkat 40), dan Vietnam (peringkat 64).  

Di negara-negara ASEAN, Competitive Index Indonesia adalah peringkat 50. Namun urutan pertama adalah Malaysia dengan peringkat 27 dan urutan kedua adalah Vietnam yang berada pada peringkat 40 (Schwab, 2019: xiii).

Meningkatnya indeks tingkat daya saing kita mensyaratkan perubahan mendasar pada sistem pendidikan. Salah satunya adalah upaya meningkatkan keterampilan yang mumpuni kepada tenaga kerja Indonesia. Pada konteks inilah meningkatkan kualitas pendidikan vokasi menjadi langkah strategis yang patut dikedepankan.

Formasi pendidikan vokasi di Indonesia hingga tahun 2019 menurut data Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi (2020:8) terdiri atas:

  1. Politeknik di seluruh Indonesia yang berstatus negeri terdapat 43 lembaga (21%), sedangkan untuk swasta terdapat 156 lembaga (79%);
  2. Terdapat 2 lembaga politeknik yang telah berstatus Badan Layanan Umum (BLU);
  3. Mahasiswa Politeknik sebanyak 246.282 orang, dimana sebanyak 156.461 orang (65%) bersekolah di Politeknik berstatus negeri dan 89.821 orang (35%) bersekolah di Politeknik berstatus swasta; 
  4. Akademi Komunitas berjumlah 18 lembaga, di antaranya 4 lembaga (22%) berstatus negeri dan 14 lembaga lainnya (78%) berstatus swasta; 
  5. Mahasiswa akademi komunitas total berjumlah 1.877 orang yang tersebar di akademi komunitas yang berstatus negeri sebanyak 887 orang (48%) dan yang berstatus swasta sebanyak 990 orang (52%); 
  6. Perguruan Tinggi yang menyelenggarakan vokasi (UNISTA) terdapat 2.249 lembaga dan mahasiswanya sebanyak 538.841 orang1.8.

Kondisi ini memerlukan peningkatan kualitas SDM. Oleh karena itu Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi memiliki target capaian pembangunan Vokasi hingga tahun 2024 yakni : 

  1. Status pendidikan tinggi vokasi akan didorong menjadi PT BLU atau PTN BH, sehingga tidak saja mempunyai keleluasaan dalam melakukan kerjasama dengan berbagai pihak terutama DUDI tapi juga untuk lulusannya akan lebih kompeten; 
  2. Pengembangan SDM akan menargetkan tidak hanya pada dosen, namun juga teknisi dan direktur Politeknik dan Ketua Akademi;
  3. Melibatkan pihak DUDI secara intens pada pendidikan vokasi;
  4. Melakukan pengembangan fleksibilitas kelembagaan sehingga dapat melaksanakan tugas lebih baik; 
  5. melakukan perbaikan akreditasi/sertifikasi;
  6. melakukan kerjasama dengan industri dalam hal pelatihan baik dalam rangka pengembangan kurikulum maupun pemagangan.

Prioritas pembangunan sumber daya manusia melalui penguatan pendidikan vokasi adalah langkah tepat. Pendidikan vokasi adalah salah satu bentuk pendidikan yang didesain kemampuan teknis spesifik yang bersesuaian dengan kebutuhan lapangan kerja tertentu.

Society 5.0 adalah sebuah era di mana memerlukan kecakapan yang dasarnya bersumber pada integrasi manusia dengan mesin digital. Digitalisasi kehidupan kerja baik formal maupun informal memerlukan lulusan pendidikan yang mumpuni pada penguasaan beberapa kompetensi.

Setidaknya ada 8 kompetensi yang seharusnya dimiliki lulusan pendidikan vokasi yakni: communication skill, critical and creative thinking, information/digital literacy, inquiry/reasoning skill, interpersonal skill, multilingual/multicultural, problem solving dan technological skill. 

Watak yang mengintegritas cyberspace dengan physical space mensyaratkan penguasaan ke 8 kompetensi tersebut.

Tantangan Era society 5.0 haruslah direspon oleh seluruh anak bangsa. Respon yang tepat adalah pembangunan yang berkeadilan kepada seluruh rakyat Indonesia. Tantangan kompetisi global jangan membuat kita sebagai bangsa menjadi babu di negeri sendiri. (*)     



Artikel ini telah tayang di Tribun-Timur.com dengan judul Pendidikan Vokasi di Era Society 5.0, https://makassar.tribunnews.com/2021/11/30/pendidikan-vokasi-di-era-society-50?page=4.